Mari Berusaha, Berdo'a Kemudian Tawakal

Saya Hanya Manusia Biasa

Senin, 26 November 2012

Bahan Organik Tanah

Smangat

Bahan Organik Tanah

I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Bahan organik tanah adalah semua bahan fraksi  bukan mineral yang ditemukan sebagai komponen penyusun tanah. Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis,  yang bersumber dari perubahan uk bentuk dari  sisa tanaman dan binatangyang terdapat didalam tanah, yang dipengaruhi faktor fisika, biologi, kimia (Kononova, 1961).
Menurut stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua senyawa organik yang terdapat didalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik yang larut dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.
Bahan organik memiliki peran penting untuk kemampuan tanah dalam  mendukung produktivitas tanaman, sehingga jika bahan organik menurun, maka kemampuan tanah untuk mendukung produktivitas tanaman juga menurun.
Menurunnya  bahan organik adalah sesuatu kerusakan yang sering terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah yang penting bagi masyarakat berkembang, karena intensitasnya cenderung meningkat sehingga terciptanya tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.
Kerusakan tanah secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama yaitu: kerusakan sifat fisika tanah, kimia, dan biologi tanah. Kerusakan kimia terjadi karena adanya pemasaman tanah, akumulasi garam-garam (salinisasi), tercemar logam berat, dan tercemar senyawa organik dan xeneobonik seperti bahan pestisida dan tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001).
Terjadinya pemasaman tanah karena penggunaan pupuk yang dilakukan secara terus menerus dalam jumlah besar (Brady, 1990). Kerusakan tanah secara fisik terjadi karena kerusakan struktur tanah sehingga terjadinya pemadatan tanah. Kerusakan struktur tanah ini terjadi karena kesalahan dalam pengolahan tanah atau karena penggunaan bahan kimia secara terus-menerus.
Kerusakan biologi terjadi karena adanya penyusutan populasi atau berkurangnya biodiversitas organisme tanah, dan terjadi bukan karena kerusakan sendiri, melainkan karena kerusakan lain (fisik atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (dalam bentuk amonium sulfat dan sulfur coated urea) yang digunakan secara terus menerus selama 20 tahun dapat mengakibatkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan menurun drastis (Ma et al., 1990).
Kehilangan unsur hara pada daerah  perakaran merupakan fenomena umum pada pertanian dengan masukan rendah. Kemiskinan unsur hara biasanya terjadi pada lahan yang kurang subur tanpa diimbangi dengan pemberian pupuk organik ataupun pupuk buatan yang memadai. Termasuk dalam kelompok ini kehilangan bahan organik yang lebih cepat dengan penambahannnya adalah pada lapisan atas.
Dengan demikian terjadi ketidakseimbangan antara penambahan bahan organik dan kehilangan yang terjadi melalui proses dekomposisi sehingga menurunkan kandungan bahan organik didalam tanah.
Tanah- tanah yang sudah rusak akan sulit untuk mendukung produktivitas dan pertumbuhan tanaman. Sehingga dibutuhkan suatau upaya untuk melakukan perbaikan tanah (kandungan bahan organik) agar dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas tanaman kembali secara optimal.
Penyedian bahan organik dapat dilakukan yaitu dengan penambahan bahan organik maupun bahan anorganik pada suatu tanah. Pupuk anorganik dapat menyediakan unsur hara dengan cepat. Namun apabila hal itu dilakukan secara terus menerus maka akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada tanah. Sehingga, perlu diadakannya suatu upaya pemasyarakatan tentang pemulihan bahn organik tanah dengan menggunakan pupuk organik, karena pupuk organik berdampak kecil pada kerusakan tanah.

B.Tujuan
Praktikum tentang bahan organik tanah (BOT) memiliki tujuan untuk menentukan kandungan bahan organik suatu tanah. Sehingga kita dapat mengolongkan jenis tanah tersebut.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.Tempat dan Waktu
Praktikum penentuan kandungan bahan organik suatu tanah ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Tanah Jurusan Ilmu Tanah Fakultas n Pertanian Universitas Sriwijaya Indalaya.
Praktikum tentang kandungan bahan organik suatu tanah ini dilaksanakan pada tanggal 21 oktober 2010, pada pukul 08.00 WIB.

B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi: erlenmeyer 200 ml, timbangan dua digital 2 desimal, buret 50 ml, gelas ukur 10 ml, pipet ukur 10 ml, pipet ukur 100 ml, pipet tetes, dan sprayer. Untuk bahan yang digunakan yaitu aquades, sampel tanah, Kalium dikromat (K2Cr2O4), Ferous sulfat Fe(NH4)2 7, dan Asam fosfat (H3PO4).

C. Cara kerja
1. Timbang sampel tanah kering udara 0,5 gr, masukkan kedalam erlenmeyer 200 ml
2. Kemudian tambahkan 10 ml kalium dikromat 1 M dengan gelas ukur
3. Selanjutnya digoyang-goyang mendatar dan memutar
4. Tambahkan Asam sulfat pekat 10 ml
5. Masukkan kedalam lemari asam untuk pendinginan selama 30 menit
6. Setelah dingin, tambahkan aquades 100 ml, 5 ml Asam fosfat, dan 2,5 natrium florida.
7. Tambahkan 10 tetes diphenylamine dengan pipet tetes, kemudian dititrasi dengan ferrous sulfat menggunakan magnetic stirrer dan buret sampai berwarna hijau berlian.


II. TINJAUN PUSTAKA
A.Bahan Organik
Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis,  yang bersumber dari perubahan uk bentuk dari  sisa tanaman dan binatangyang terdapat didalam tanah, yang dipengaruhi faktor fisika, biologi, kimia (Kononova, 1961).
Menurut stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua senyawa organik yang terdapat didalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik yang larut dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.
Bahan organik adalah semua fraksi bukan mineral yang ditemukan sebagai komponen penyusun tanah. Bahan Organik tanah mempunyai peranan dalam penilaian suatu tanah sebagai media tempat tumbuh tanaman. Bahan Organik tanah merupakan pengatur kelembapan dan aerasi, pemantap struktur sumber hara bagi tanaman terutama N,P,S, dan B. Serta meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) dan merupakan sumber bagi aktivitas jasad mikro.
Metode penetapan Bahan Organik (BO) telah sejak lama dan banyak diketahui hingga saat ini metode penetapan bisa dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1.Berdasarkan kehilangan bobot karena pemanasan
2. Berdasarkan kadar unsur C
3. Berdasarkan jumlah bahan organik yang mudah teroksidasi
Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
B. Sumber Bahan Organik

Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.
Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian  batuan.
Perbedaan sumber bahan organik tanah tersebut akan memberikan perbedaan pengaruh yang disumbangkannya ke dalam tanah. Hal itu berkaitan erat dengan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Komposisi atau susunan jaringan tumbuhan akan jauh berbeda dengan jaringan binatang. Pada umumnya jaringan binatang akan lebih cepat hancur daripada jaringan tumbuhan. Jaringan tumbuhan sebagian besar tersusun dari air yang beragam dari 60-90% dan rata-rata sekitar 75%. Bagian padatan sekitar 25% dari hidrat arang 60%, protein 10%, lignin 10-30% dan lemak 1-8%. Ditinjau dari susunan unsur karbon merupakan bagian yang terbesar (44%) disusul oleh oksigen (40%), hidrogen dan abu masing-masing sekitar 8%. Susunan abu itu sendiri terdiri dari seluruh unsur hara yang diserap dan diperlukan tanaman kecuali C, H dan O.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN




A.Hasil
Adapun hasil kelompok kami (kelompok II) dari praktikum penetapan bahan organik berdasarkan metode jumlah bahan yang mudah teroksidasi dengan menggunakan sampel tanah sawah. Maka diperolehlah hasil sebagai berikut:
1.Hasil titrasi dengan menggunakan Ferous sulfat diperoleh angka 7
2. Hasil blangko diperoleh hasil 9,8
3. Faktor grafik 0,5 gr
Tabel hasil,.
Nama kelompok
Hasil titrasi
Hasil blangko
Factor grafik (gr)
II
7,0
9,8
0,5

B. Pembahasan
Kami dari kelompok II, dengan hasil diatas maka kandungan bahan organik dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
·         %C – Organik = (1­) x f
·         %B – Organik = % C organik x 1,724
Keterangan:
t = hasil titrasi
b = hasil blangko
f = faktor genetik ( 0,5 gr = 7,8 dan 1 gr = 3,9)
Dari rumus tersebut, maka kita dapat menghitung kandungan bahan organik dari sampel tanah sawah tersebut. Dengan diketahui hasil titrasi (t) yaitu 7, hasil blangko (b) yaitu 9,8, dan faktor grafiknya (f) 0,5 gr = 7,8. Maka dapat dihitung sebagai berikut:
%C – Organik = (1­) x f
%C – Organik = (1 - ) x 7,8
                               =() x 7,8
                          =() x 7,8
                         = 0,29 x 7,8
                           = 2,262

%B – Organik = % C organik x 1,724
                        = 2,262 x  1,724
                        = 3,9
Dari perhitungan diatas maka kami mendapatkan hasil pengujian sampel tanah sawah kandungan % C- organik yaitu 2,262. Dan hasil kandungan bahan organik (%B- Organik) yang terkandung dalam tanah sawah tersebut adalah 3,9.
Hasil diatas dapat dijadikan rujukan untuk pengolahan lahan sawah yang akan digunakan dalam proses produksi. Dengan mengetahui kandungan bahan organik yang terkandung didalamnya, maka kita dapat menentukkan jumlah kebutuhan kadar bahan organik yang ideal untuk lahan sawah.
            Selain itu, dengan mengetahui kandungan bahan organic sawah dengan menggunakan rumus tersebut diatas, maka kita dapat menentukkan seberapa ideal kandungan bahan organik pada tanah sawah. Karena kandungan bahan organic pada tanah sawah akan mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas dari tanah tersebut terhadap tanaman.


V. KESIMPULAN DAN SARAN


A.Kesimpulan
Dari uraian diatas, maka kita dapat menyimpulkan sebagai berikut;
1. Persentase kandungan C-organik pada tanah sawah yaitu 2,262
2. Persentase Kandungan bahan organik tanah sawah yaitu 3,9
3. Hasil blangko dari pengujian bahan organik yaitu 9,8
4. Faktor grafiknya yaitu 9,8, karena berat bahan yang digunakan yaitu 0,5 gr
5. Setiap jenis tanah memiliki kandungan bahan organik yang berbeda

B.Saran
Dalam pengujian bahan organik suatu tanah ada beberapa hal yang perlu diperhatikanyaitu: tanah yang digunakan dalam praktikum kimia pertanian tentang penetetapan pH suatu tanah harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu: tanah dalam bentuk tekstur yang halus, tanah kering udara, dan gunakan prinsip kerja pengujian (tata cara, takaran dan penggunaan bahan kimia) yang tepat dan benar yang sesuai dengan kaidah praktikum pengujian.











DAFTAR PUSTAKA
Ø  Sutanto,rachman.2005.Dasar-Dasar Ilmu Tanah (konsep dan kenyataan).Yogyakarta. KANISIUS
Ø  Sutedjo, mul mulyani & Kartasapoetra A.G.2002. Pengantar Ilmu Tanah. Jakarta.RINEKA CIPTA
Ø  Sutanto, rachman.2002. Penerapan Pertanian Organik. Yogyakarta. KANISIUS

Smangat

Bahan Organik Tanah

I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Bahan organik tanah adalah semua bahan fraksi  bukan mineral yang ditemukan sebagai komponen penyusun tanah. Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis,  yang bersumber dari perubahan uk bentuk dari  sisa tanaman dan binatangyang terdapat didalam tanah, yang dipengaruhi faktor fisika, biologi, kimia (Kononova, 1961).
Menurut stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua senyawa organik yang terdapat didalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik yang larut dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.
Bahan organik memiliki peran penting untuk kemampuan tanah dalam  mendukung produktivitas tanaman, sehingga jika bahan organik menurun, maka kemampuan tanah untuk mendukung produktivitas tanaman juga menurun.
Menurunnya  bahan organik adalah sesuatu kerusakan yang sering terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah yang penting bagi masyarakat berkembang, karena intensitasnya cenderung meningkat sehingga terciptanya tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.
Kerusakan tanah secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama yaitu: kerusakan sifat fisika tanah, kimia, dan biologi tanah. Kerusakan kimia terjadi karena adanya pemasaman tanah, akumulasi garam-garam (salinisasi), tercemar logam berat, dan tercemar senyawa organik dan xeneobonik seperti bahan pestisida dan tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001).
Terjadinya pemasaman tanah karena penggunaan pupuk yang dilakukan secara terus menerus dalam jumlah besar (Brady, 1990). Kerusakan tanah secara fisik terjadi karena kerusakan struktur tanah sehingga terjadinya pemadatan tanah. Kerusakan struktur tanah ini terjadi karena kesalahan dalam pengolahan tanah atau karena penggunaan bahan kimia secara terus-menerus.
Kerusakan biologi terjadi karena adanya penyusutan populasi atau berkurangnya biodiversitas organisme tanah, dan terjadi bukan karena kerusakan sendiri, melainkan karena kerusakan lain (fisik atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (dalam bentuk amonium sulfat dan sulfur coated urea) yang digunakan secara terus menerus selama 20 tahun dapat mengakibatkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan menurun drastis (Ma et al., 1990).
Kehilangan unsur hara pada daerah  perakaran merupakan fenomena umum pada pertanian dengan masukan rendah. Kemiskinan unsur hara biasanya terjadi pada lahan yang kurang subur tanpa diimbangi dengan pemberian pupuk organik ataupun pupuk buatan yang memadai. Termasuk dalam kelompok ini kehilangan bahan organik yang lebih cepat dengan penambahannnya adalah pada lapisan atas.
Dengan demikian terjadi ketidakseimbangan antara penambahan bahan organik dan kehilangan yang terjadi melalui proses dekomposisi sehingga menurunkan kandungan bahan organik didalam tanah.
Tanah- tanah yang sudah rusak akan sulit untuk mendukung produktivitas dan pertumbuhan tanaman. Sehingga dibutuhkan suatau upaya untuk melakukan perbaikan tanah (kandungan bahan organik) agar dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas tanaman kembali secara optimal.
Penyedian bahan organik dapat dilakukan yaitu dengan penambahan bahan organik maupun bahan anorganik pada suatu tanah. Pupuk anorganik dapat menyediakan unsur hara dengan cepat. Namun apabila hal itu dilakukan secara terus menerus maka akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada tanah. Sehingga, perlu diadakannya suatu upaya pemasyarakatan tentang pemulihan bahn organik tanah dengan menggunakan pupuk organik, karena pupuk organik berdampak kecil pada kerusakan tanah.

B.Tujuan
Praktikum tentang bahan organik tanah (BOT) memiliki tujuan untuk menentukan kandungan bahan organik suatu tanah. Sehingga kita dapat mengolongkan jenis tanah tersebut.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.Tempat dan Waktu
Praktikum penentuan kandungan bahan organik suatu tanah ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Tanah Jurusan Ilmu Tanah Fakultas n Pertanian Universitas Sriwijaya Indalaya.
Praktikum tentang kandungan bahan organik suatu tanah ini dilaksanakan pada tanggal 21 oktober 2010, pada pukul 08.00 WIB.

B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi: erlenmeyer 200 ml, timbangan dua digital 2 desimal, buret 50 ml, gelas ukur 10 ml, pipet ukur 10 ml, pipet ukur 100 ml, pipet tetes, dan sprayer. Untuk bahan yang digunakan yaitu aquades, sampel tanah, Kalium dikromat (K2Cr2O4), Ferous sulfat Fe(NH4)2 7, dan Asam fosfat (H3PO4).

C. Cara kerja
1. Timbang sampel tanah kering udara 0,5 gr, masukkan kedalam erlenmeyer 200 ml
2. Kemudian tambahkan 10 ml kalium dikromat 1 M dengan gelas ukur
3. Selanjutnya digoyang-goyang mendatar dan memutar
4. Tambahkan Asam sulfat pekat 10 ml
5. Masukkan kedalam lemari asam untuk pendinginan selama 30 menit
6. Setelah dingin, tambahkan aquades 100 ml, 5 ml Asam fosfat, dan 2,5 natrium florida.
7. Tambahkan 10 tetes diphenylamine dengan pipet tetes, kemudian dititrasi dengan ferrous sulfat menggunakan magnetic stirrer dan buret sampai berwarna hijau berlian.


II. TINJAUN PUSTAKA
A.Bahan Organik
Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis,  yang bersumber dari perubahan uk bentuk dari  sisa tanaman dan binatangyang terdapat didalam tanah, yang dipengaruhi faktor fisika, biologi, kimia (Kononova, 1961).
Menurut stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua senyawa organik yang terdapat didalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik yang larut dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.
Bahan organik adalah semua fraksi bukan mineral yang ditemukan sebagai komponen penyusun tanah. Bahan Organik tanah mempunyai peranan dalam penilaian suatu tanah sebagai media tempat tumbuh tanaman. Bahan Organik tanah merupakan pengatur kelembapan dan aerasi, pemantap struktur sumber hara bagi tanaman terutama N,P,S, dan B. Serta meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) dan merupakan sumber bagi aktivitas jasad mikro.
Metode penetapan Bahan Organik (BO) telah sejak lama dan banyak diketahui hingga saat ini metode penetapan bisa dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1.Berdasarkan kehilangan bobot karena pemanasan
2. Berdasarkan kadar unsur C
3. Berdasarkan jumlah bahan organik yang mudah teroksidasi
Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
B. Sumber Bahan Organik

Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.
Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian  batuan.
Perbedaan sumber bahan organik tanah tersebut akan memberikan perbedaan pengaruh yang disumbangkannya ke dalam tanah. Hal itu berkaitan erat dengan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Komposisi atau susunan jaringan tumbuhan akan jauh berbeda dengan jaringan binatang. Pada umumnya jaringan binatang akan lebih cepat hancur daripada jaringan tumbuhan. Jaringan tumbuhan sebagian besar tersusun dari air yang beragam dari 60-90% dan rata-rata sekitar 75%. Bagian padatan sekitar 25% dari hidrat arang 60%, protein 10%, lignin 10-30% dan lemak 1-8%. Ditinjau dari susunan unsur karbon merupakan bagian yang terbesar (44%) disusul oleh oksigen (40%), hidrogen dan abu masing-masing sekitar 8%. Susunan abu itu sendiri terdiri dari seluruh unsur hara yang diserap dan diperlukan tanaman kecuali C, H dan O.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN




A.Hasil
Adapun hasil kelompok kami (kelompok II) dari praktikum penetapan bahan organik berdasarkan metode jumlah bahan yang mudah teroksidasi dengan menggunakan sampel tanah sawah. Maka diperolehlah hasil sebagai berikut:
1.Hasil titrasi dengan menggunakan Ferous sulfat diperoleh angka 7
2. Hasil blangko diperoleh hasil 9,8
3. Faktor grafik 0,5 gr
Tabel hasil,.
Nama kelompok
Hasil titrasi
Hasil blangko
Factor grafik (gr)
II
7,0
9,8
0,5

B. Pembahasan
Kami dari kelompok II, dengan hasil diatas maka kandungan bahan organik dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
·         %C – Organik = (1­) x f
·         %B – Organik = % C organik x 1,724
Keterangan:
t = hasil titrasi
b = hasil blangko
f = faktor genetik ( 0,5 gr = 7,8 dan 1 gr = 3,9)
Dari rumus tersebut, maka kita dapat menghitung kandungan bahan organik dari sampel tanah sawah tersebut. Dengan diketahui hasil titrasi (t) yaitu 7, hasil blangko (b) yaitu 9,8, dan faktor grafiknya (f) 0,5 gr = 7,8. Maka dapat dihitung sebagai berikut:
%C – Organik = (1­) x f
%C – Organik = (1 - ) x 7,8
                               =() x 7,8
                          =() x 7,8
                         = 0,29 x 7,8
                           = 2,262

%B – Organik = % C organik x 1,724
                        = 2,262 x  1,724
                        = 3,9
Dari perhitungan diatas maka kami mendapatkan hasil pengujian sampel tanah sawah kandungan % C- organik yaitu 2,262. Dan hasil kandungan bahan organik (%B- Organik) yang terkandung dalam tanah sawah tersebut adalah 3,9.
Hasil diatas dapat dijadikan rujukan untuk pengolahan lahan sawah yang akan digunakan dalam proses produksi. Dengan mengetahui kandungan bahan organik yang terkandung didalamnya, maka kita dapat menentukkan jumlah kebutuhan kadar bahan organik yang ideal untuk lahan sawah.
            Selain itu, dengan mengetahui kandungan bahan organic sawah dengan menggunakan rumus tersebut diatas, maka kita dapat menentukkan seberapa ideal kandungan bahan organik pada tanah sawah. Karena kandungan bahan organic pada tanah sawah akan mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas dari tanah tersebut terhadap tanaman.


V. KESIMPULAN DAN SARAN


A.Kesimpulan
Dari uraian diatas, maka kita dapat menyimpulkan sebagai berikut;
1. Persentase kandungan C-organik pada tanah sawah yaitu 2,262
2. Persentase Kandungan bahan organik tanah sawah yaitu 3,9
3. Hasil blangko dari pengujian bahan organik yaitu 9,8
4. Faktor grafiknya yaitu 9,8, karena berat bahan yang digunakan yaitu 0,5 gr
5. Setiap jenis tanah memiliki kandungan bahan organik yang berbeda

B.Saran
Dalam pengujian bahan organik suatu tanah ada beberapa hal yang perlu diperhatikanyaitu: tanah yang digunakan dalam praktikum kimia pertanian tentang penetetapan pH suatu tanah harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu: tanah dalam bentuk tekstur yang halus, tanah kering udara, dan gunakan prinsip kerja pengujian (tata cara, takaran dan penggunaan bahan kimia) yang tepat dan benar yang sesuai dengan kaidah praktikum pengujian.











DAFTAR PUSTAKA
Ø  Sutanto,rachman.2005.Dasar-Dasar Ilmu Tanah (konsep dan kenyataan).Yogyakarta. KANISIUS
Ø  Sutedjo, mul mulyani & Kartasapoetra A.G.2002. Pengantar Ilmu Tanah. Jakarta.RINEKA CIPTA
Ø  Sutanto, rachman.2002. Penerapan Pertanian Organik. Yogyakarta. KANISIUS

Bahan Organik Tanah


Bahan Organik Tanah

I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Bahan organik tanah adalah semua bahan fraksi  bukan mineral yang ditemukan sebagai komponen penyusun tanah. Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis,  yang bersumber dari perubahan uk bentuk dari  sisa tanaman dan binatangyang terdapat didalam tanah, yang dipengaruhi faktor fisika, biologi, kimia (Kononova, 1961).
Menurut stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua senyawa organik yang terdapat didalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik yang larut dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.
Bahan organik memiliki peran penting untuk kemampuan tanah dalam  mendukung produktivitas tanaman, sehingga jika bahan organik menurun, maka kemampuan tanah untuk mendukung produktivitas tanaman juga menurun.
Menurunnya  bahan organik adalah sesuatu kerusakan yang sering terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah yang penting bagi masyarakat berkembang, karena intensitasnya cenderung meningkat sehingga terciptanya tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.
Kerusakan tanah secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama yaitu: kerusakan sifat fisika tanah, kimia, dan biologi tanah. Kerusakan kimia terjadi karena adanya pemasaman tanah, akumulasi garam-garam (salinisasi), tercemar logam berat, dan tercemar senyawa organik dan xeneobonik seperti bahan pestisida dan tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001).
Terjadinya pemasaman tanah karena penggunaan pupuk yang dilakukan secara terus menerus dalam jumlah besar (Brady, 1990). Kerusakan tanah secara fisik terjadi karena kerusakan struktur tanah sehingga terjadinya pemadatan tanah. Kerusakan struktur tanah ini terjadi karena kesalahan dalam pengolahan tanah atau karena penggunaan bahan kimia secara terus-menerus.
Kerusakan biologi terjadi karena adanya penyusutan populasi atau berkurangnya biodiversitas organisme tanah, dan terjadi bukan karena kerusakan sendiri, melainkan karena kerusakan lain (fisik atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (dalam bentuk amonium sulfat dan sulfur coated urea) yang digunakan secara terus menerus selama 20 tahun dapat mengakibatkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan menurun drastis (Ma et al., 1990).
Kehilangan unsur hara pada daerah  perakaran merupakan fenomena umum pada pertanian dengan masukan rendah. Kemiskinan unsur hara biasanya terjadi pada lahan yang kurang subur tanpa diimbangi dengan pemberian pupuk organik ataupun pupuk buatan yang memadai. Termasuk dalam kelompok ini kehilangan bahan organik yang lebih cepat dengan penambahannnya adalah pada lapisan atas.
Dengan demikian terjadi ketidakseimbangan antara penambahan bahan organik dan kehilangan yang terjadi melalui proses dekomposisi sehingga menurunkan kandungan bahan organik didalam tanah.
Tanah- tanah yang sudah rusak akan sulit untuk mendukung produktivitas dan pertumbuhan tanaman. Sehingga dibutuhkan suatau upaya untuk melakukan perbaikan tanah (kandungan bahan organik) agar dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas tanaman kembali secara optimal.
Penyedian bahan organik dapat dilakukan yaitu dengan penambahan bahan organik maupun bahan anorganik pada suatu tanah. Pupuk anorganik dapat menyediakan unsur hara dengan cepat. Namun apabila hal itu dilakukan secara terus menerus maka akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada tanah. Sehingga, perlu diadakannya suatu upaya pemasyarakatan tentang pemulihan bahn organik tanah dengan menggunakan pupuk organik, karena pupuk organik berdampak kecil pada kerusakan tanah.

B.Tujuan
Praktikum tentang bahan organik tanah (BOT) memiliki tujuan untuk menentukan kandungan bahan organik suatu tanah. Sehingga kita dapat mengolongkan jenis tanah tersebut.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.Tempat dan Waktu
Praktikum penentuan kandungan bahan organik suatu tanah ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Tanah Jurusan Ilmu Tanah Fakultas n Pertanian Universitas Sriwijaya Indalaya.
Praktikum tentang kandungan bahan organik suatu tanah ini dilaksanakan pada tanggal 21 oktober 2010, pada pukul 08.00 WIB.

B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi: erlenmeyer 200 ml, timbangan dua digital 2 desimal, buret 50 ml, gelas ukur 10 ml, pipet ukur 10 ml, pipet ukur 100 ml, pipet tetes, dan sprayer. Untuk bahan yang digunakan yaitu aquades, sampel tanah, Kalium dikromat (K2Cr2O4), Ferous sulfat Fe(NH4)2 7, dan Asam fosfat (H3PO4).

C. Cara kerja
1. Timbang sampel tanah kering udara 0,5 gr, masukkan kedalam erlenmeyer 200 ml
2. Kemudian tambahkan 10 ml kalium dikromat 1 M dengan gelas ukur
3. Selanjutnya digoyang-goyang mendatar dan memutar
4. Tambahkan Asam sulfat pekat 10 ml
5. Masukkan kedalam lemari asam untuk pendinginan selama 30 menit
6. Setelah dingin, tambahkan aquades 100 ml, 5 ml Asam fosfat, dan 2,5 natrium florida.
7. Tambahkan 10 tetes diphenylamine dengan pipet tetes, kemudian dititrasi dengan ferrous sulfat menggunakan magnetic stirrer dan buret sampai berwarna hijau berlian.


II. TINJAUN PUSTAKA
A.Bahan Organik
Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis,  yang bersumber dari perubahan uk bentuk dari  sisa tanaman dan binatangyang terdapat didalam tanah, yang dipengaruhi faktor fisika, biologi, kimia (Kononova, 1961).
Menurut stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua senyawa organik yang terdapat didalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik yang larut dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.
Bahan organik adalah semua fraksi bukan mineral yang ditemukan sebagai komponen penyusun tanah. Bahan Organik tanah mempunyai peranan dalam penilaian suatu tanah sebagai media tempat tumbuh tanaman. Bahan Organik tanah merupakan pengatur kelembapan dan aerasi, pemantap struktur sumber hara bagi tanaman terutama N,P,S, dan B. Serta meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) dan merupakan sumber bagi aktivitas jasad mikro.
Metode penetapan Bahan Organik (BO) telah sejak lama dan banyak diketahui hingga saat ini metode penetapan bisa dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1.Berdasarkan kehilangan bobot karena pemanasan
2. Berdasarkan kadar unsur C
3. Berdasarkan jumlah bahan organik yang mudah teroksidasi
Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
B. Sumber Bahan Organik

Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.
Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian  batuan.
Perbedaan sumber bahan organik tanah tersebut akan memberikan perbedaan pengaruh yang disumbangkannya ke dalam tanah. Hal itu berkaitan erat dengan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Komposisi atau susunan jaringan tumbuhan akan jauh berbeda dengan jaringan binatang. Pada umumnya jaringan binatang akan lebih cepat hancur daripada jaringan tumbuhan. Jaringan tumbuhan sebagian besar tersusun dari air yang beragam dari 60-90% dan rata-rata sekitar 75%. Bagian padatan sekitar 25% dari hidrat arang 60%, protein 10%, lignin 10-30% dan lemak 1-8%. Ditinjau dari susunan unsur karbon merupakan bagian yang terbesar (44%) disusul oleh oksigen (40%), hidrogen dan abu masing-masing sekitar 8%. Susunan abu itu sendiri terdiri dari seluruh unsur hara yang diserap dan diperlukan tanaman kecuali C, H dan O.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN




A.Hasil
Adapun hasil kelompok kami (kelompok II) dari praktikum penetapan bahan organik berdasarkan metode jumlah bahan yang mudah teroksidasi dengan menggunakan sampel tanah sawah. Maka diperolehlah hasil sebagai berikut:
1.Hasil titrasi dengan menggunakan Ferous sulfat diperoleh angka 7
2. Hasil blangko diperoleh hasil 9,8
3. Faktor grafik 0,5 gr
Tabel hasil,.
Nama kelompok
Hasil titrasi
Hasil blangko
Factor grafik (gr)
II
7,0
9,8
0,5

B. Pembahasan
Kami dari kelompok II, dengan hasil diatas maka kandungan bahan organik dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
·         %C – Organik = (1­) x f
·         %B – Organik = % C organik x 1,724
Keterangan:
t = hasil titrasi
b = hasil blangko
f = faktor genetik ( 0,5 gr = 7,8 dan 1 gr = 3,9)
Dari rumus tersebut, maka kita dapat menghitung kandungan bahan organik dari sampel tanah sawah tersebut. Dengan diketahui hasil titrasi (t) yaitu 7, hasil blangko (b) yaitu 9,8, dan faktor grafiknya (f) 0,5 gr = 7,8. Maka dapat dihitung sebagai berikut:
%C – Organik = (1­) x f
%C – Organik = (1 - ) x 7,8
                               =() x 7,8
                          =() x 7,8
                         = 0,29 x 7,8
                           = 2,262

%B – Organik = % C organik x 1,724
                        = 2,262 x  1,724
                        = 3,9
Dari perhitungan diatas maka kami mendapatkan hasil pengujian sampel tanah sawah kandungan % C- organik yaitu 2,262. Dan hasil kandungan bahan organik (%B- Organik) yang terkandung dalam tanah sawah tersebut adalah 3,9.
Hasil diatas dapat dijadikan rujukan untuk pengolahan lahan sawah yang akan digunakan dalam proses produksi. Dengan mengetahui kandungan bahan organik yang terkandung didalamnya, maka kita dapat menentukkan jumlah kebutuhan kadar bahan organik yang ideal untuk lahan sawah.
            Selain itu, dengan mengetahui kandungan bahan organic sawah dengan menggunakan rumus tersebut diatas, maka kita dapat menentukkan seberapa ideal kandungan bahan organik pada tanah sawah. Karena kandungan bahan organic pada tanah sawah akan mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas dari tanah tersebut terhadap tanaman.


V. KESIMPULAN DAN SARAN


A.Kesimpulan
Dari uraian diatas, maka kita dapat menyimpulkan sebagai berikut;
1. Persentase kandungan C-organik pada tanah sawah yaitu 2,262
2. Persentase Kandungan bahan organik tanah sawah yaitu 3,9
3. Hasil blangko dari pengujian bahan organik yaitu 9,8
4. Faktor grafiknya yaitu 9,8, karena berat bahan yang digunakan yaitu 0,5 gr
5. Setiap jenis tanah memiliki kandungan bahan organik yang berbeda

B.Saran
Dalam pengujian bahan organik suatu tanah ada beberapa hal yang perlu diperhatikanyaitu: tanah yang digunakan dalam praktikum kimia pertanian tentang penetetapan pH suatu tanah harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu: tanah dalam bentuk tekstur yang halus, tanah kering udara, dan gunakan prinsip kerja pengujian (tata cara, takaran dan penggunaan bahan kimia) yang tepat dan benar yang sesuai dengan kaidah praktikum pengujian.











DAFTAR PUSTAKA
Ø  Sutanto,rachman.2005.Dasar-Dasar Ilmu Tanah (konsep dan kenyataan).Yogyakarta. KANISIUS
Ø  Sutedjo, mul mulyani & Kartasapoetra A.G.2002. Pengantar Ilmu Tanah. Jakarta.RINEKA CIPTA
Ø  Sutanto, rachman.2002. Penerapan Pertanian Organik. Yogyakarta. KANISIUS

PENETAPAN BAHAN ORGANIK TANAH

Smangat

PENETAPAN BAHAN ORGANIK TANAH

BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang
Bahan organic merupakan akumulasi dari sisa tanaman dan hewan yang mengalami pelapukan parsiil dan sebagian merupakan bahan resisten. Banyak sedikitnya bahan organic dalam tanah mempengaruhi sifat –sifat tanah. Seperti daya penahan air, kapasitas jerapan kation, kapasitas penyediaan unsure N, P, dan S, stabilitas tanah, aerasi dan sebagainya. Dengan demikian peranan bahan organic sangat besar dalammeningkatkan kesuburan tanah dan tidak dapat digantikan oleh bahan yang lain.
Penetapan bahan organik tanah adalah berdasarkan oksidasi. Macam oksidasi yang sering digunakan untuk penetapan bahan organik adalah oksidasi basah dan oksidasi kering. Penetapan bahan organic pada percobaan ini menggunakan cara oksidasi basah , menurut metode Walkey Black, dimana bahan organic tanah dioksidasi oleh kalium dikromat berlebih diberikan untuk mengoksidasi bahan organic. Kalium dikhromat yang berlebihan tidak digunakan untuk proses oksidasi tersebut, di titrasi dengan ferrosulfat yang sudah diketahui normalitasnya. Difinilamine dalam H2SO4 pekat digunakan untuk petunjuk titik akhir titrasi sedangkan pemberian H3PO4 85% untuk menghilangkan gangguan yang mungkin timbul karena adanya ion Ferro.Reaksi yang berlangsung pada dasarnya sebagai berikut :
3 C + 2 Cr2O7 + 16 H+ → 3 CO2 + 4 Cr2 + 8 H2O
Maksud dan Tujuan
Untuk mengetahui kandungan bahan organik yang ada dalam tanah
Untuk mengetahui factor – factor yang mempengaruhi kandungan bahan organic dalam tanah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu system kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia (Kononova, 1961).
Menurut Stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.
Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.(red) Bahan organik tanah juga merupakan salah satu indikator kesehatan tanah. Tanah yang sehat memiliki kandungan bahan organik tinggi, sekitar 5%. Sedangkan tanah yang tidak sehat memiliki kandungan bahan organik yang rendah. Kesehatan tanah penting untuk menyamin produktivitas pertanian.
Bahan organik dalam tanah merupakan fraksi bukan mineral yang ditemukan sebagai bahan penyusun tanah. Kadar bahan organik yang terdapat dalam tanah Alfisol berkisar antara (0,05-5) % dan merupakan tanah yang ideal untuk lahan pertanian, dan untuk tanah organik mendekati 60 % dan pada Titik oleh kadar bahan organik memperlihatkan kecenderungan yang menurun (Pairunan, dkk., 1985)
Bahan organik memiliki peranan sangat penting di dalam tanah. Bahan organik tanah terdiri dari sisa-sisa tumbuhan atau binatang melapuk. Tingkat pelapukan bahan organik berbeda-beda dan tercampur dari berbagai macam bahan.
Fungsi Bahan Organik Tanah
Bahan organik tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena memiliki beberapa peranan kunci di tanah. Peranan-peranan kunci bahan organik tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
Fungsi Biologi:
menyediakan makanan dan tempat hidup (habitat) untuk organisme (termasuk mikroba) tanah menyediakan energi untuk proses-proses biologi tanah memberikan kontribusi pada daya pulih (resiliansi) tanah
Fungsi Kimia:
merupakan ukuran kapasitas retensi hara tanah penting untuk daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah menyimpan cadangan hara penting, khususnya N dan K
Fungsi Fisika:
mengikat partikel-partikel tanah menjadi lebih remah untuk meningkatkan stabilitas struktur tanah meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air perubahahan moderate terhadap suhu tanah.
Fungsi-fungsi bahan organik tanah ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Sebagai contoh bahan organik tanah menyediakan nutrisi untuk aktivitas mikroba yang juga dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik, meningkatkan stabilitas agregat tanah, dan meningkatkan daya pulih tanah (www.csiro.au).
Faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah juga harus diperhatikan karena mempengaruhi jumlah bahan organik. Miller et al. (1985) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah bahan organik dalam tanah adalah sifat dan jumlah bahan organik yang dikembalikan, kelembaban tanah, temperatur tanah, tingkat aerasi tanah, topografi dan sifat penyediaan hara.
Pemberian bahan organik ke dalam tanah memberikan dampak yang baik terhadap tanah, tempat tumbuh tanaman. Tanaman akan memberikan respon yang positif apabila tempat tanaman tersebut tumbuh memberikan kondisi yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangannya.
Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah menyediakan zat pengatur tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman seperti vitamin, asam amino, auksin dan giberelin yang terbentuk melalui dekomposisi bahan organik (Brady, 1990)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ALAT DAN BAHAN
ALAT :
Erlenmeyer 250 ml atau 500 ml
Pipet volume 1o ml
Gelas ukur 20 ml
Buret dan statif
BAHAN :
H3PO4 85%
H2PO4 pekat 96 %
NaF Kristal
K2Cr2O7 (49,04 g K2Cr2O7 dilarutkan dalam aquades hingga 1000 ml)
Indikator difenilamin
Larutan Fe2SO4 1 N
CARA KERJA :
Menimbang 0,5 g contoh tanah yang telah dihaluskan ke dalam tabung erlenmeyer 250 ml.
Memipet 10 ml Kalium dikhromat 1 N dan menuangkan dalam Erlenmeyer, menggoyang dengan hati – hati sehingga tidak terjadi butir – butir tanah menempel didinding labu.
Menambahkan 20 ml asam sulfat pekat dan mengaduk betul hingga rata, harus terjadi kontak reagen dengan tanah (melakukan pada kamar asam)
Memantapkan selama 30 menit
Menambahkan 200 ml aquades
Menambahkan 10 ml H3PO4 85% dan 0,2 g NaF dalam Erlenmeyer.
Menambahkan indicator difenilamin 10 tetes.
Mentitrasi dengan larutan ferrosulfat (warna akan berubah dari biru gelap menjadi hijau)
Rumus untuk mengetahui % C :
% C=((vol blanko-vol contoh)x 3)/(vol blanko x 0,5)
Kandungan bahan organic tanah (%) = %C x 1,729





BAB IV HASIL PENGAMATAN dan PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
I II III IV
Volume blanko (ml) 21.4 21.4 21.4 21.4
Volume contoh (ml) 20.8 15.7 19.4 17.7
%C 0.168224 1.598131 0.560748 1.037383
bahan OT 0.29086 2.763168 0.969533 1.793636
Kategori sangat rendah sedang sangat rendah rendah

No Penambahan Bahan Warna
1 + Kalium khromat Orange
2 + asam sulfat pekat Merah bata
+ aquades Coklat muda
3 +asam pospat 85% Colkat muda
4 + indicator definilamine Hijau gelap kebiruan
5 + titrasi dengan ferrosulfat Hijau terang

Kelompok III
% C=% C=((vol blanko-vol contoh)x 3)/(vol blanko x 0,5) = ((21,4 ml-19,4 ml)x 3)/(21,4 ml x 0,5)= 0.560748
Kandungan bahan organic tanah (%) = 0.560748 x 1,729 = 0,969533
Pembahasan
Tanah tersusun dari bahan padatan, cair, dan udara. Bahan padatan tersebut terdiri dari bahan mineral dan bahan organic. Bahan mineral terdiri dari partikel pasir, debu dan liat. Ketiga partikel ini menyusun tekstur tanah. Bahan organik dari tanah mineral berkisar 5% dari bobot total tanah. Meskipun kandungan bahan organik tanah mineral sedikit (+5%) tetapi memegang peranan penting dalam menentukan Kesuburan Tanah (dasar –dasar ilmu tanah.blogspot.com).
Komposisi Biokimia Bahan Organik Menurut Waksman (1948) dalam Brady (1990) bahwa biomassa bahan organik yang berasal dari biomass hijauan, terdiri dari : (1) air (75%) dan (2) biomass kering (25%).
Tanah mempunyai kandungan bahan organic yang bervariasi . Banyak sedikitnya jumlah bahan organic yang terdapat pada tanah disebabkan oleh kadar komponen biomassa kering yang mencakup unsure; (1)Karbon(C=44%),(2)Oksigen(O=40%),(3)Hidrogen(H=8%),dan(4) Mineral (8%). Penetapan bahan organic menggunakan metode oksidasi yang mana cara kerjanya adalah dengan mengoksidasi bahan organic tanah. Bahan yang digunakan mencakup kalium khromat itu sendiri yang berfungsi untuk mengoksidasi bahan organic. Ferrosulfat untuk mentitrasi kalium khromat berlebih yang tidak digunakan untuk proses oksidasi. Definilamine dan asam sulfat pekat yang digunakan untuk petunjuk titik akhir titrasi. Dan pemberian asam pospat 85% untuk menghilangkan gangguan yang mungkin timbul karena adanya ion ferro, serta NaF untuk memperkuat atau memperjelas warna (tapi tidak digunakan karena limit).
Pada pengamatan timbul warna yang berbeda setiap kali pencampuran bahan, yang menunjukkan telah terjadinya reaksi antar bahan. Data pada table pengamatan diatas. Akan tetapi warna yang di titik beratkan adalah pada kondisi setelah ditambah indicator dan pada kondisi dititrasi. Karena perubahan warna dari hijau gelap kebiruan menjadi hijau mudah adalah penunjuk yang menyatakan jumlah volume titrasi, yang nantinya volume ini sebagai nilai volume contoh untuk menentukan % kandungan bahan organic di tanah setelah .
Data hasil pengamatan menunjukkan adanya perbedaan kandungan bahan organic pada kelompok I, II, III dan IV. Penyebabnya adalah contoh tanah yang digunakan sebagai bahan pengamatan untuk masing – masing kelompok berbeda. Pada hasil pengamatan kelompok III didapat % kandungan bahan organic = 0.969533 % yang termasuk dalam kategori kandungan bahan organiknya sangat rendah. Hal ini dipengaruhi oleh banyak factor, Seperti factor yang telah disebutkan diatas yaitu perbedaan jenis contoh tanah, dari factor ini kita bisa menjabarkan lebih rinci yaitu :
Kedalaman tanah; kedalaman lapisan menentukan kadar bahan organic dan N, kadar bahan organic terbanyak ditemukan di lapisan atas setebal 20 cm, makin ke bawah makin berkurang. Hal itu disebabkan akumulasi bahan organic memang terkonsentrasi di lapisan atas.
Tekstur; tekstur tanah juga cukup berperan, makin tinggi jumlah liat makin tinggi pula bahan organic dan N tanah bila kondisi lainnya sama. Tanah berpasir memungkinkan memungkinkan oksidasi yang baik sehingga bahan organic cepat habis.
Iklim yang termasuk didalamnya suhu dan curah hujan; makin ke daerah dingin makin tinggi kandungan bahan organic dan N. pada kondisi yang sama kadar bahan organic dan N bertambah dua hingga tiga kali lipat tiap suhu tahunan rata – rata turun 100C . bila kelembaban efektif meningkat kadar bahan organic dan N juga bertambah. Hal ini menunjukkan suatu hambatan kegiatan organisme tanah .
Drainase; drainase yang buruk dimana airnya berlebih, menyebabkan oksidasi terhambat karena aerasi buruk, hal ini menyebabkan kadar bahan organic dan N lebih tinggi daripada tanah berdrainase baik. Jadi semakin drainase air baik, kandungan bahan organik dalam tanah justru akan semakin kecil, dikarenakan ruang pori yang terisi udara akan mempercepat oksidasi (Nurhajati H., 1986)

Selain itu juga terdapat factor penunjang yang ikut andil dalam mempengaruhi % kandungan bahan organic di tanah dilihat dari sumber bahan berasal. Sumber Bahan Organik Tanah Bahan organik tanah dapat berasal dari:
Sumber primer bahan organik dalam tanah Alfisol adalah jaringan tanaman, berupa akar, batang, ranting, daun. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke Titik bawah serta diinkorporasikan dengan tanah.(Islami, T., 1995).
Sumber sekunder, yaitu: jaringan organik fauna, yang dapat berupa: kotorannya dan mikrofauna.
Sumber lain dari luar, yaitu: pemberian pupuk organik berupa: (a) pupuk kandang, (b) pupuk hijau, (c)pupuk bokasi (kompos), dan (d) pupuk hayati.

BAB V KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa kandungan bahan organik tanah pada masing – masing kelompok berbeda dengan rata – rata termasuk dalam kategori kandungannya sangat rendah dan pada kelompok III = 0.969533 % yang masuk dalam kategori sangat rendah.
factor – factor yang mempengaruhi kandungan bahan organic dalam tanah :
Kedalaman tanah,
Tekstur,
Iklim yang termasuk didalamnya suhu dan curah hujan, dan
Drainase
Sumber bahan organic : Sumber primer, Sumber sekunder, dan Sumber lain dari luar

DAFTAR PUSTAKA
-------, Bahan Organic.www.csiro.au. desember 2009
-------, Dasar –dasar ilmu tanah.blogspot.com. desember 2009
Brady. 1990. Bahan organic dalam Anisuryani. IPB
Hakim, N. 1986. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung : Lampung
Islami, T., 1995 Bahan organic dalam Wikipedia. Desember 2009
Kononova. 1961. Bahan organic dalam Anisuryani. IPB
Miller .1985. Bahan organic dalam Anisuryani. IPB
Pairunan. 1985. Bahan organic dalam Anisuryani. IPB
Stevenson .1994. Bahan organic dalam Anisuryani. IPB

Sabtu, 17 November 2012

Lowongan Kerja Terbaru Bank Danamon November 2012 | Lowongan Kerja

PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk sedang membutuhkan seorang karyawan yang ahli dalam bidang Account Officer, Teller, Credit Officer dan Field Collection dengan persyaratan yang diajukan minimal berpendidikan SMA dan D3. Sperti apakah data lengkap mengenai informasi loker tersebut? Silahkan Anda baca dan simak saja langsung dibawah ini secara detail.

Bank Danamon Indonesia

Nama Perusahaan : PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk
Deskripsi : Puluhan ribu orang telah bergabung dan mencapai sukses bersama di PT Bank Danamon, Tbk melalui segmen Danamon Simpan Pinjam. Bagi anda yang memiliki keinginan untuk sukses, kami mengajak anda menjadi salah satu bagian dari tim perbankan terbaik dan bekesempatan menjado Pegawai Tetap PT Bank Danamon Indonesia, Tbk.

Alamat : Komplek Ruko Permata Hijau Kav 6. Jl. Brigjend Dharsono No. 10 (by pass) Cirebon 45132

Lowongan untuk :
1. Account Officer
2. Teller
3. Credit Officer
4. Field Collection

Lokasi Kerja di : Majalengka, Kuningan, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Purwokerto, Purbalingga

Persyaratan :

1. Account Officer
- Lulusan min. D3: IPK 2,75, usia maks. 35 tahun
- Bersedia bekerja di area pasar
- Memiliki jiwa marketing
- Berorientasi pada target
- Memiliki network yang luas
- Memiliki sim C dan kendaraan roda dua
- Menguasai bahasa daerah setempat dan mengenal komunitas setempat

2. Teller
- Lulusan min. D3: IPK 2,75, usia maks. 35 tahun
- Bersedia bekerja di area pasar
- Teliti dan cekatan
- Berorientasi pada target
- Memiliki network yang luas
- Memiliki sim C dan kendaraan roda dua
- Menguasai bahasa daerah setempat dan mengenal komunitas setempat 

3. Credit Officer
- Lulusan min. D3: IPK 2,75, usia maks. 35 tahun
- Memiliki pengalaman min. 1 tahun di bidang kredit
- Mamiliki kemampuan analisis kredit
- Memiliki sim C dan kendaraan roda dua
- Menguasai bahasa daerah setempat dan mengenal komunitas setempat 

4. Field Collection
- Lulusan min. SMA, usia maks. 35 tahun
- Bersedia bekerja di area pasar
- Memiliki kemampuan komunikasi yang baik
- Berorientasi pada target
- Memiliki network yang luas
- Memiliki sim C dan kendaraan roda dua
- Menguasai bahasa daerah setempat dan mengenal komunitas setempat 

Kirimkan lamaran dan CV lengkap via POS ke :
HRD SEMM PT. Bank Danamon, Tbk
Komplek Ruko Permata Hijau Kav. 6
Jl. Brigjend Dharsono No. 10 (by pass)
Cirebon 45132

Atau via email ke : bdi.rekrut.dspcirebon@danamon.co.id

Cantumkan dalam surat lamaran, anda mengetahui informasi lowongan ini tanggal berapa dan dari mana (dari website apa atau koran apa atau yang lainnya).
Smangat ira